Wednesday, January 30, 2013

Price Tag

Diposkan oleh Ferina Aquila di 8:16 PM
Reaksi: 
0 komentar
“Uang bukanlah segalanya”. Lo pasti udah pada familiar kan denger kata-kata itu? Ya, memang ada beberapa hal yg gak bisa dibeli dengan uang kayak kasih sayang, cinta, perhatian, keluarga dan harga diri. Lo naksir cewe ...nggg, atau cowo ..atau banci ya terserah lo deh, tapi dia gak suka sama lo. Dari lo beliin gelang ronce di lapak aksesoris pinggiran sampe jam tangan mewah bertabur kristal Swarovski pun kalo dia gak ada rasa ya ga bakal suka sama lo dari hati.

Tapi diluar hal-hal itu ... Man, segalanya butuh uang. Makan butuh uang. Seneng-seneng butuh uang. PDKT butuh uang. Pipis di pom bensin juga butuh duit. Buang air kecil seribu, mandi dua ribu, mandi kembang tiga ribu lima ratus. Sementara paket lulur ekstra itu ... Err~ ketauan deh gue resepsionis salon spa. Pokoknya, ibarat lagu, kalo lagunya Jessie J bilang: it’s not about money money money. We don’t need your money money money. Gue sih bakal ganti liriknya jadi: it’s all about money money money. We really need your money money money ... #SSGD. Suka-suka gue dong!


Anyway, untuk ngedapetin duit tentu aja kita harus berusaha. Kalau dulu orang bener-bener bekerja keras untuk mendapatkan uang masih terbilang gampang, di era yg persaingannya semakin ketat ini disamping ekonomi juga lagi susah, banyak orang yg menghalalkan segala cara untuk meraih uang dalam jumlah banyak dan dalam waktu yg relatif cepet. Ya orang sekarang kan maunya yg instan ya? Laper, males masak/anak kos gak punya duit, bikin mi instan, lalu keterusan sampai 40 hari berikutnya, kemudian kanker (hiks!). Tugas sekolah/kampus, gak butuh referensi buku langsung capcus cyiiin ke gogel. Padahal sukses yg instan akan berakhir secara instan juga alias sementara. Sementara sukses yg dimulai dengan kerja keras dari hal sekecil apapun, itu bakal berlangsung lama.

Begitu juga dengan pengen punya banyak uang/kaya. Ada yg nyulik kayak kasus anaknya Musdalifah, janda dirampok (ini kejadian di kampung gue. Hiii~), sampe penipuan berkedok sumbangan yg sering terjadi.

NAH, ngomong-ngomong soal penipuan disinilah poin tulisan gue kali ini. Tadi gue stalking twitternya @shitlicious. Buat yg belum tau, bang Alitt Susanto itu penulis buku “Shitlicious” dan “Skripshit”. Tadi itu dia ngetwit masalah akun fake yg berkedok mengumpulkan dana buat ngebantu orang sakit. Jadi ada orang sakit parah beneran terus si pelaku memanfaatkan keadaan ini buat meraup untung bagi dia pribadi dengan alasan dana sosial. Berhubung gue juga termasuk orang yg sakit parah, apalagi gue bikin blog gini dan mungkin aja dibaca orang yg berniat jelek, gue mau tegaskan GAK ADA DONASI YG MENGATASNAMAKAN FERINA AQUILA YA?! Gue gak pernah bikin kayak gituan. Gue gak mau aja ada orang gak bener yg ‘menjual penderitaan’ gue dengan bikin donasi fake kayak gitu, apalagi tanpa izin gue. Enak aja gue yg meriang dia yg cuma modal ngarang cerita mendayu dayung ke pulau seberang bisa dapet duit banyakan! Kalo lo sampe nemu ada yg gitu mengatasnamakan gue, kasih tau gue ya? Jangan harap pelakunya bisa pipis sambil salto lagi! Gue bikin hernia ntar. Huh. Karena nanti disini bukan cuma gue aja yg merasa dirugikan. Kasihan orang-orang yg niatnya emang mau beramal.

Ngomong-ngomong soal tindak kriminal kayak gitu, gue jadi inget cerita di salah satu bukunya Kahlil Gibran yg judul bahasa Indonesianya “Airmata & Sukacita dari Lebanon”. Beuh! Pecicilan begini gue juga suka gaya bahasa yg sistematis mekanis matematis yg terangkai indah bak puisi. Sayangnya gue gak bakat merangkai kata. Merangkai kata wasiat aja bubar. Pffft~

Buku "Airmata dan Sukacita dari Lebanon" by Kahlil Gibran

Kalo pesan yg gue tangkep dari cerita ini adalah: yang pertama, JANGAN MUDAH PUTUS ASA. Tuhan gak suka lo berputus asa karena itu tandanya lo gak percaya Dia. Wujudkan yg lo percayai. Kalo disitu gak kesampean, coba di tempat lain. Ada seribu jalan menuju roma. Mau nikung belok kiri, lurus mentok, muter-muter bunderan, apa aja karena Tuhan membuka banyak jalan yg baik yg bisa lo tempuh. Karena disaat lo putus asa, iblis datang dan meracuni pikiran lo.

Gue selalu percaya manusia punya dua sisi. Sisi baik dan sisi jahat. Kayak kata-katanya Sirius Black, tergantung sisi mana yg kita pilih. Jadi orang jahat atau jadi orang baik. Lagipula kalo lo bener-bener kesusahan berusaha sendiri, masih ada orang baik kok yg mau nolong asal lo gak menyalahgunakan bantuan itu.

Pesan yg kedua dari buku ini sih gue rasa, rasa tamak dan serakah itu ngerugiin orang lain karena tadi, segala cara dihalalkan. Akibatnya kita jauh dari Tuhan. Biar lo semakin paham, so this is the story :))

Sang Penjahat
From book “Tears and Laughter” by Kahlil Gibran

Seorang pemuda yg kuat tubuhnya, lemah karena lapar, duduk di trotoar sambil mengulurkan tangannya kepada semua orang yg lewat, mengemis dan mengulang nyanyian sedih dari kekalahan dalam kehidupannya, sambil menderita karena lapar dan karena dihina.

Ketika malam datang, bibir serta lidahnya kering, sementara tangannya masih juga kosong seperti perutnya.

Ia bangkit berdiri dan keluar kota, dimana ia duduk dibawah sebuah pohon dan menangis tersedu-sedu. Lalu ia angkat matanya yg bingung ke langit sementara rasa lapar menggerogotinya, dan ia berkata: “Ya Tuhan, aku pergi ke orang kaya itu dan memohon pekerjaan, tetapi ia berpaling karena penampilanku yg compang-camping; aku mengetok pintu sekolah, tetapi aku dilarang menikmati penghiburan karena aku bertangan kosong; aku mencari pekerjaan apapun demi mendapatkan roti, tetapi semuanya sia-sia. Dalam keputusasaan aku mengemis, tetapi para penyembah-Mu melihatku dan berkata, ‘Ia kuat tetapi malas, janganlah ia mengemis’.

“Ya Tuhan, atas kehendak-Mu lah ibuku melahirkan aku, dan sekarang bumi mempersembahkanku kembali kepada-Mu sebelum akhirnya”.

Lalu ekspresinya berubah. Ia bangkit berdiri dan matanya sekarang bersinar dengan penuh tekad. Ia ambil sebatang ranting dari dahan pohon itu, dan menunjuknya ke arah kota, sambil berseru: “Telah kuminta roti dengan seluruh kekuatan suaraku, dan aku ditolak. Sekarang akan kuperoleh roti itu dengan kekuatan otot-ototku! Telah kuminta roti demi nama belas kasihan dan kasih, tetapi manusia tidak mau mendengarkan. Sekarang akan kuambil roti itu demi nama iblis!”.

Tahun-tahun yg lewat menyaksikan pemuda ini menjadi perampok, pembunuh, dan penghancur jiwa; ia hancurkan semua orang yg menentangnya; ia timbun kekayaan dengan mana ia mendekati mereka yg berkuasa. Ia dikagumi oleh rekan-rekannya, diiri oleh pencuri lainnya, dan ditakuti oleh banyak orang.

Kekayaan serta posisinya yg palsu memenangkan hati sang Emir yg kemudian menunjuknya menjadi wakil di kota tersebut―proses menyedihkan yg dilaksanakan oleh gubernur yg tidak bijaksana. Maka pencurianpun disahkan; penindasan didukung oleh kekuasaan; penghancuran terhadap yg lemah menjadi sesuatu yg umum; orang banyak menjilat dan memuji.

Demikianlah sentuhan pertama keegoisan manusia menjadikan orang yg rendah hati penjahat, dan menjadikan pecinta damai pembunuh; demikianlah ketamakan manusia pada mulanya bertumbuh dan balas menyerang manusia seribu kali lipat! 

Tuesday, January 29, 2013

Elegi Aquila

Diposkan oleh Ferina Aquila di 4:59 AM
Reaksi: 
4 komentar
Dipostingan kali ini gue mau mempublikasikan cerpen karya mendes gue tercinta: Anindyah Nuke Indraswari yg ditujukan buat gue. KOREKSI: buat dosen bahasa Indonesia dia.

Uke :3

Jadi dia ditugasin buat bikin cerpen dikampusnya dan dia mengangkat kisah tentang gue. Gue terharu, termehek-mehek, tersedak dan terperosok tak bisa bangkit lagi ngedengernya :3 so sweaaat … Cerpen yg berjudul “Elegi Aquila” ini dinilai sama dosennya sebagai cerpen terbaik seangkatan jurusan dia loh! Hahaha. Bukan apa-apa, karena pake nama gue aja jadinya terbaik :P. I’m proud enough for what she done. Gue aja bacanya speechless. Iya, gue nggak sanggup berkata-kata karena mulut gue dilakban sama dia biar gak ketawa duluan. Tapi kenyataannya gue malah nangis bacanya :’). Buat Uke yg selalu minta namanya dimasukkin ke dalam blog gue (hehe, semoga gue gak dijumroh kalo dia baca kalimat yg ini >.<), this part is specially for you. Selamat membaca!

Elegi Aquila
By: Anindyah Nuke Indraswari

Sudah seharusnya nama menjadi cerminan diri, sekalipun nama itu ganjil terdengar, tapi itu penting. Sebuah nama bukan sekedar hiasan diri. Dibutuhkan arti untuk memperindahnya.

1998. Awal aku bertemu dengan dia. Ya … “Dia”. Aquila namanya. Berkulit putih, berhidung mancung, mata besar yg bersinar dan rambut selegam arang. Aquila yg cantik. Aquila sahabat pertama yg aku dapatkan di masa taman kanak-kanakku. Selalu aku perhatikan gerak langkah cerdik Aquila.

Aquila berarti elang. Tetapi berarti juga sebuah bintang paling bersinar di langit sana. Seperti namanya, Aquila selalu melakukan pergolakan yg berarti. Kecantikannya membuat ia memenangkan lomba kartini masa TK, otak briliannya mengantarkannya mendapat sekolah-sekolah lanjutan favorit di kota ini. Aku dan Aquila, bagai bumi dan bintang di langit. Perbedaan sangat jauh, tapi entah mengapa aku selalu ditakdirkan mendampinginya.

You’re smart, but you’re lazy. Dan kamu sangat cantik tetapi sungguh tak mau tahu akan dirimu”. Ia selalu mengatakan kalimat itu padaku. Entah mengapa perbedaan kami tak pernah menjadi halangan untuk menjadi seorang sahabat.

Aquila dengan segala tekanan ego ayahnya agar selalu menjadi juara sekolah, terkadang ia berfikir ingin menjadi diriku yg serba biasa ini. Ia sering mengeluh akan sikap ayahnya yg selalu ingin Aquila menjadi yg pertama atas segalanya.

“Syukuri saja semua yg kamu punya. Jika aku jadi kamu, pastilah aku bangga dengan diriku yg seperti itu!”. Dengan berat Aquila menjawab, “Kamu hanya membayangkan bagaimana menjadi aku, bukan yg merasakannya. Semua yg aku punya bukan segalanya. Hidup ini hanya sekali, sekalipun tak ingin aku sia-siakan. Aku hanya ingin menjadi gadis remaja tanpa tuntutan menjadi selalu nomor satu”.

Aquila memang gampang emosi. Apalah arti kata-kata yg keluar dari mulutku jika ia sedang marah dan bermuram durja? Sebagai sahabat aku hanya ingin selalu mengerti dirinya.

Masa SMP telah usai. Dengan segala kemampuanku akhirnya aku memutuskan untuk berbeda SMA dengan Aquila. Tentu ia protes, “Siapa lagi nantinya yg bisa jail ke aku kalau kamu tidak bersamaku?”, begitu protesnya. Aku memang selalu mengganggunya saat kami masih satu sekolah. Itu aku lakukan semata-mata hanya karena ingin ia melupakan kesibukannya sebagai “anak pintar”.

Aquila melebarkan sayap. Di SMA-nya ia semakin berprestasi dan semakin banyak mempunyai teman yg satu pemikiran dengannya. Aku tersingkir. Aku sudah menduga ini akan terjadi. Lambat laun komunikasiku dengannya semakin jarang. Aku sungguh sangat memaklumi tanpa rasa cemburu.

Akhir 2011, mendadak saja aku sangat merindunya. Kudengar ia mendapat perguruan tinggi kenamaan di kota sana, dan aku hanya menetap di daerah asal walaupun tetap berkuliah.
Suatu malam di bulan Desember 2011 aku mendapat pesan dari Aquila. “I miss you badly. Bisa ketemu dirumahku besok? Pukul 4 sore. Banyak yg ingin aku ceritakan dan aku perlihatkan”. Aku membalas pesan itu dengan balasan yg berisi kesediaanku.

Keesokan harinya, aku menemui Aquila dengan harapan aku akan kembali melihat wajah ayunya setelah sekian lama. Seketika bayanganku akan Aquila hilang begitu saja. Yang aku lihat hanya seorang gadis bermuka cekung, pucat seperti mayat hidup. Aquila duduk di kursi roda. Perlahan air mataku mulai mengalir. “Apa yg terjadi padamu?”. “Aku sakit. Dokter memvonis aku mengidap kanker stadium akhir. Aku sangat takut. Aku butuh kamu. Selama ini aku selalu butuh kamu. Aku mohon jangan hilang lagi dari aku”. Mendengar ucapannya tanpa berlama-lama aku langsung memeluknya. Kejatuhan Aquila membuat ia ditinggalkan teman-temannya satu persatu. Aku merasa menjadi sahabat yg sangat tidak berguna.

Hari demi hari berlalu, Aquila seperti kehilangan dirinya yg bersinar dulu. Aquila tak lagi menjadi idola. Ia hanya terbaring lemah di rumah dan sesekali melakukan kemoterapi di rumah sakit. Aku tak pernah lalai memberi semangat untuk dirinya. Aku sangat sakit dan sangat menderita dengan melihat kondisinya. Aquila yg cantik sekarang terlihat seperti mayat hidup. Wajahnya pucat, rambut hitam legamnya telah habis dan digantikan oleh wignya.

Sesekali Aquila ingin bersama denganku pergi berjalan-jalan. Tatapan miris orang-orang selalu menjadi beban untuknya. “Apa kamu tidak malu berteman dengan diriku ini?”, tanya Aquila. Dengan mantap aku menjawab, “ Sekalipun aku tak pernah malu. Kamu itu tetap kamu yg dulu. Persetan dengan kankermu itu!”. Ia bilang semua yg aku katakan adalah semangat bagi dirinya.

Pada pertemuan kami berikutnya, ia bertanya, “Apakah aku berhak untuk mendapatkan cinta seorang lelaki dengan kondisiku yg begini adanya?”. “Tentu. Lelaki yg baik untukmu tak akan memandang fisik melainkan hati”. Lagi-lagi ia menangis. Ia merasa sudah menyerah dengan segala pengobatan yg ia lalui. Aku turut merasakan kesedihan dan keputusasaan Aquila. Seandainya aku bisa melakukan sesuatu untuk membuang penyakitnya jauh-jauh. Sayang, dunia ini bukan dunia dongeng yg segalanya bisa dilakukan dengan mudah.

Semakin sering aku berfikir tentang Aquila. Kabarnya sekarang tubuhnya sudah menolak untuk diberi kemoterapi. Tak kusangka penyakit itu bisa dengan cepat mengalahkan tubuhnya.

Tak pernah aku lupa panjatkan doa agar nantinya ada keajaiban untuk Aquila-ku, sahabat kecilku …

Untuk Ferina Aquila
yang sedang berjuang

It's All About Tomorrow

Diposkan oleh Ferina Aquila di 2:31 AM
Reaksi: 
8 komentar

Apa yg lo pikirkan tentang kematian?
Apakah tentang surga dan neraka?
Seberapa sering lo memikirkannya?
Apakah lo punya cukup pahala untuk berani mati kalau-kalau besok lo mati?
Lalu, kalo gue mati bagaimana dengan orang-orang yg menyayangi gue?
Berapa banyak yg cukup peduli untuk dateng ke pemakaman gue dan berduka atas kehilangan sosok gue?

Itu tadi kira-kira rentetan pertanyaan yg sering terlintas dibenak gue sewaktu gue sekarat. Gak hanya mikirin cicilan wajan yg belum lunas, gue juga serius mikirin kalau-kalau gue mati. Saat itu gue yakin 85% hidup gue sedang memasuki masa tenggang. Ibarat gue ini nomer perdana ngeselin karena sinyal semangat gue putus-nyambung, Tuhan jadi keki dan gak ngisi pulsa lagi buat ngeliat mau sampai kapan sinyalnya bolong-bolong gitu. Kata orang jawa ‘mutungi’. “Operator macam apa nih? Malesin banget dikasih pulsa sinyalnya SOS”, mungkin gitu kata Tuhan. Jujur, rasa sakit, kondisi yg lemah, perasaan jenuh dan muak bikin gue hopeless menatap hari esok.


“Gue sama Dulmalik mau married tahun depan. Lo dateng ya, Fer”. Brekele! Boro-boro taun depan, besok aja gue gak tau masih bernyawa gak. Saat dimana orang-orang menggampangkan kata “besok-aja-ya” seperti buang angin di kereta ekonomi tanpa rasa berdosa, lewat aja gitu kayak angin lalu, saat itulah pesakitan seperti gue ini menyadari betapa berharganya waktu setiap detiknya.

Saat kematian terasa dekat rasanya banyak yg ingin lo lakuin. Lo ingin melakukan hal yg belum pernah lo lakuin sebelumnya, keramas pake air kopi. Lo ingin menghabiskan waktu bersama orang yg lo sayangi selama mungkin, lo ingin mengatakan banyak hal yg belum sempet lo katakan selama ini, lo juga ingin bertemu orang-orang yg ingin lo temui. Jangan sampe karena gak kesampean lalu ketemu di pemakaman. Gue gak mungkin bangun lagi buat bilang, “hai! Long time no see ya”, lalu cipika cipiki sambil ketawa lompat-lompat pake kafan.

Gue jadi inget waktu gue lagi sering menggigil dan demam mendadak gara-gara kateter jantung. Saat itu gue lagi baca Cinta Brontosaurus-nya Raditya Dika dikamar. Tiba-tiba gue menggigil dan setengah jam kemudian gue demam mendadak. Rasanya lebih dahsyat dari kumat yg kemaren-kemaren. Gue sempet berpikir mungkin ini waktunya gue pergi karena mata gue berat banget seperti memaksa gue untuk memejamkan mata jadi gue berusaha merangkai kata perpisahan di otak gue. Kampretnya gara-gara habis baca bukunya Raditya Dika gue malah gak konsen bikin kata-kata wasiat karena keinget cerita-cerita di buku itu.


Sambil ngigo karena demam tinggi gue berulang kali teriak,”bentaar! Bentaaar!”, minta perpanjangan waktu sama malaikat pencabut nyawa yg mungkin bete nungguin gue daritadi komat-kamit nyusun kata gak kelar-kelar. Sementara orangtua gue bingung ngeliat tingkah gue yg sebelas dua belas sama orang sakaw paracetamol.

Karena frustasi gak nemu kata-kata yg pas gue pun berusaha pasrah baca doa. Bodo amat lah kata-kata perpisahan. Keluarga gue pasti tau kok gue sayang mereka. Temen-temen juga. Jadi gue mulai berniat baca ayat kursi dan istighfar aja. Sialnya, gue mendadak gak hafal ayat kursi. Gue jadi kayak orang gagu. “Assholatu ... nggg, allahuma .. Astaghfirullahaladziiiim”. Gue nyerah jadi gue skip ayat kursinya. Gue pengen mewek. Jadi gini susahnya orang sakaratul baca doa walaupun itu sekedar “la illa ha illallah”? Untungnya saat mengerikan itu bisa gue lalui. Alhamdulillah gue masih hidup. 

Next time sebelum gue kumat gue tulis doanya di kertas lalu gue tempel di dinding deket kasur gue. Syukurlah pas kumat lagi, leher gue gak keseleo jadi gue bisa baca doanya di dinding.

Walaupun sekarang gue udah gak sesekarat, dua karat, tiga karat kayak dulu kadang gue masih memikirkan kematian disela-sela waktu gue. Iya semua orang bakal mati memang, tapi peluang orang sakit parah kayak gue lebih besar dibanding peluang orang sehat kelindes bajaj.

Gue jadi inget temen SMP sekaligus SMA gue dulu, almarhum Bani. Dia kanker darah. Gue gak deket sama dia tapi gue tau dia itu hebat banget. Semua orang juga tau. Sakitnya parah tapi masih bisa sekolah dan pinter lagi! Gue pernah liat dia naik tangga ke kelasnya di X2 diatas. Pelan-pelan banget. Well, sekarang gue tau rasanya jadi dia saat itu. Capek, broh naik tangga buat pesakitan kayak kita! Orang nyemprot parfum pake satu tangan aja gue gak kuat. 

 Alm. Bani Wicaksono

Gue iri sebenernya sama mereka yg sakit pas usia sekolah kayak Bani sama Keke, bukan usia ‘ngampus’ kayak gue ini. Kampus itu nyebelin. Presentasi kehadiran cuma ada ‘hadir’ dan ‘tidak hadir’. Gak kayak sekolah yg pake variasi ijin, sakit, atau alpa. Kalo kurang dari 75% gak bisa ikut ujian, belum tugas, kuis sama laporan. Nah, berangkat ngampus aja jantung gue udah stereo berharap gak kenapa-kenapa, gimana ngurus kehadiran sama laporan yg numpuk setiap gue ijin kemo? Gue bisa bau ketek, gatel-gatel, dan wafat gegara tugas, bukan gegara kankernya karena gak sempet pake deodoran, mandi sampe gak punya waktu buat bernafas. Mopo. Kesel sak kesel-kesele. Ndhas nang sikil, sikil nang ndhas. Kalo sakitnya pas sekolah kan enak. Gurunya masih care, kehadiran bisa dimaklumi, tugasnya gak cetar macam bunyi pecut dokar jadi masih bisa diikuti tanpa cuti. Apalagi ada home schooling. Lah, home campus??? Emang ada? Pffft.

Anyway, gue jadi penasaran apa yg ada dipikiran Bani sama Keke saat mereka ada di posisi kayak gue ini. Sembuh gak, sekarat juga gak. Gue kayak digantungin, diPHP-in, dan gue galau. Galau karena penyakit itu lebih horor karena menyangkut masa depan. Masa depan keuangan, masa depan karir, masa depan jodoh, ...

Galau ini juga menyerang kalo gue belanja. Gue mau beli celana, galau. Jangan-jangan bentar lagi gue mati terus celananya belom sempet kepake. Sayang duit. Gue mau beli helm baru, galau. Ah, paling bentar lagi gue mati. Tapi kalo umur gue panjang gimana? Hmmmm, ntar deh. Gak jadi beli. Emang dasarnya gue aja yg maunya ngirit! Hah.

Gue pernah minta sama ibu kalo gue mati gue mau kafan gue warna-warni. Polkadot kek atau rainbow yg lagi ngetren. Ini serius. Boring aja kalo kafan warnanya putih *yawn*. Biar kalo gue jadi arwah penasaran, orang yg liat penampakan gue bilang, “iiih, tadi aku liat permen sugus warna warni besar banget di kebon mangganya pak Slamet. Unyuuu!”, gitu kan gue seneng dengernya. Kalo dibilang serem gue sedih. Hiks! T_T tapi berhubung gue ngomongin hal-hal yg bikin parno, ibu ngancem bakal bungkus mayat gue pake daun pisang, so i’m shutting up. Gak rela sebenernya pembicaraan gue tentang request warna kain kafan diedit sesingkat itu.

Gue juga sempet berpikiran, gue dari dulu pengen banget dikasih bunga. Kalo bisa bunganya bunga lili putih, itu bunga favorit gue. Ini bakalan random kalo kesampeannya pas di pemakaman gue -_______-

Gue juga bela-belain nyempetin ke studio buat foto kali aja bendera kuning berkibar gagah didepan rumah gue. Buat lo yg udah liat foto profil gue di facebook, yaaa kira-kira gitu deh. Gue kuatir aja nanti ibu masang foto gue yg posenya ngangkang di depan para peziarah. Kan gak enak juga buat dicetak di majalah yasin. Seenggaknya foto gue yg ditake di studio mencerminkan suasana duka dibanding foto-foto yg lain. Pake baju item, bawa bunga :3. Pokoknya acara penghormatan terakhir gue harus perfek kayak acara ulang tahun ke-8 gue. Dan gue mau kali ini temanya “So Young” karena gue matinya masih muda. Hahaha

Dibela-belain foto beginian -_______-

Tapi ditengah-tengah kegalauan dan perencanaan keinginan gue sebelum mati, tiba-tiba gue teringat kata-kata ini: jangan khawatirkan hari esok yg belum pasti. Nikmatilah hari ini selagi bisa. Hari besok biar jadi bagian dari misteri rencana Tuhan. Gue lupa yg ngomong siapa yg jelas bukan Lady Gaga karena Lady Gaga cuma bilang “just dance!” lalu gue nari breakdance diakhiri encok di pinggang. Inget kalimat itu mendadak gue ngerasa bloon banget udah nyia-nyiain waktu gue buat mikirin yg enggak-enggak. 

Mungkin itu juga ya yg ada dipikiran Bani sama Keke? Nikmati hari ini. Hidup selagi mampu. Dan kalau kita harus ‘pergi’, it’s not goodbye. It’s see you next time :))

Saturday, January 19, 2013

Mengejar Mimpi

Diposkan oleh Ferina Aquila di 4:32 AM
Reaksi: 
6 komentar
Dulu waktu jaman gue ospek ada tugas dimana kita harus menuliskan apa aja mimpi-mimpi kita yg ingin dicapai dan jumlahnya musti 101. Meskipun keinginan gue banyak, bahkan mungkin lebih dari itu, menjabarkannya satu-satu itu ternyata gak mudah. Ibarat makan indomie di pagi hari. Gue nggak tau apa hubungannya yg jelas gue laper.

Punya mimpi itu penting. Apalagi karena yg ngomong yayang gue si aa Bondan Prakoso. Hidup berawal dari mimpi, jadi tidurlah. Lalu kalimat selanjutnya yg lo baca adalah “the end” karena gue lebih memilih tidur ketimbang ngelanjutin nulis blog. Zzzzz


Salah-salah ...bukan itu maksud gue -_______-. Hidup berawal dari mimpi itu maksudnya adalah lo harus punya mimpi-mimpi yg ingin dicapai, seperti tujuan hidup jadi lo punya motivasi dan semangat dalam menjalani kehidupan ini sehingga lo berusaha.

Masuk akal kan? Karena lo berusaha lo laper, trus mau gak mau lo harus makan. Akhirnya kesananya lo hidup karena setiap hari lo makan *apa siiih???*.

Waktu itu yg gue tulis macem-macem. Dari yg sepele kayak “meluk anak simpanse” sampai yg terliar “manjat tebing”. Dari yg biasa “travelling” sampai ke yg luar biasa “pengen menaklukan dunia”, lalu gue akan mewajibkan penduduk dunia untuk membawa boneka barbie fairytopia sebagai pengingat ‘kenyataan lebih baik daripada sekedar mimpi’. Buat yg cowok, lo gak mau kan ngimpi jadi Erika yg punya dada 34B? Buat yg cewek, itu nightmare banget karena lo bakal melawan penyihir jahat dan gak punya waktu untuk ikut kelas balet, pedicure menicure dan bergalau ria di twitter.

Anyway, soal meluk anak simpanse sebenernya gue memang pengen beneran nglakuinnya tapi mbayanginnya kenapa gue geli sendiri ya? :/ Gue takut pamor gue tersaingi pas ada yg komen, “omegoood! Kok lucuan yg digendong sih?” lalu besoknya gue nenggak bergelas-gelas sirup tawon karena gebetan gue lebih memilih jadian sama si anak simpanse.

Karena sekarang gue lagi sakit, impian yg ingin gue capai kali ini adalah back to college. Pelaksanaannya ternyata gak mudah. Karena sejak sakit gue ini sering tidur pagi, apalagi gue ini cuti, hampir setiap harinya gue tidur jam 4 pagi dan bangun jam 2 siang. Biasanya gue gitu cuma setiap malem Jum’at dimana jadwal gue ngepet dan malem Sabtu dimana gue ronda untuk mencegah kasus perngepetan terjadi.


Memang berasa kayak di surga kerjaan gue tidur, makan, boker, mandi, sikap lilin mendadak tapi berhubung tahun ini gue balik ke kampus, gue harus mulai mengubah kebiasaan gue. Dari bangun pagi, olahraga biar fisik gue kuat, belajar, tidur jam 9 malem.

Dan, ini hari pertama gue untuk perubahan. Yeah, saatnya untuk perubahan! Hidup partai Gunce! (red- gundul tapi kece. Iya gue maksa).

Tadi gue dibangunin ibu jam setengah 8 pagi, padahal gue baru bisa tidur dalam damai kasih Tuhan jam setengah 5 pagi. Masih setengah sadar antara alam mimpi, dunia nyata dan alam barzah gue disuruh olahraga. Yg ringan aja dulu. Jalan-jalan.

Biar gak ngantuk, gue nyetel lagu Madonna – 4 minutes dari mp3 gue. Hasilnya gak cukup ampuh. Jadi gue jalan-jalan sambil setengah merem gitu kayak orang mabok. Dikit-dikit oleng, dikit-dikit nabrak kayak sopir truk yg bawa beban melebihi muatan sambil nyetir sementara di tangan kirinya ada botol arak.

Tapi dari sini gue bisa mengambil satu pelajaran. Kayak lagunya Madonna tadi, gue memang cuma punya waktu sedikit untuk menyelamatkan dunia dengan kata lain dunia gue. Gue harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin mulai dari sekarang. Ibarat semua orang sudah naik mobil, gue masih pake sepeda. Gue sudah melewatkan 2 tahun yg seharusnya gue habiskan untuk kuliah. Gue melewatkan tahun-tahun terbaik dimana seharusnya gue jadikan itu untuk cari pengalaman sebanyak-banyaknya. Ini saatnya gue mengejar ketertinggalan gue itu. Gue harus lebih bekerja keras kali ini. Bukan berarti sampai ngoyo. Kalo kita bisa me-manage waktu dengan baik, gue rasa gak ada kata ngoyo. Dan jangan berlebihan. Gue gak mau mati muda. Dosa gue masih banyak T_T gue juga belum bisa nyenengin orangtua.


Gue pernah baca quote di salah satu buku yg gue baca, “justru karena keadaan kamu yg berbeda dan kekurangan, kamu harus lebih bekerja keras dibanding oranglain”. Minimal menyamai, kalo bisa lebih dari orang sehat dan orang normal itu hebat banget. Dan gue harus jadi hebat. Mulai hari ini, gue nyatakan gue kembali mengejar mimpi gue. Tertanda. Cewek paling kece sedunia bawah air. Ferina Aquila :))

Love Talk

Diposkan oleh Ferina Aquila di 4:23 AM
Reaksi: 
4 komentar
People say first love is never dies. At the first, i thought it was bullshit. Tapi setelah gue mengalaminya, it isn’t! :)) gue bahas ini karena kebetulan saat sakit seperti ini gue merindukan dia yg gue sebut “first love” itu.

Ya begini lah nasib jomblo :/ kalo lagi sendirian, sengsara, ingatannya kemana-mana. Butuh duit inget orangtua, bete inget temen, laper inget utang di kantin belom lunas, terus kalo di tagih main amnesia. “Haaa? Gue dimana? Gue anak siapa? Kenapa gaya keluar khayal dinamakan gaya sentrifugal?”. Lalu gue disembur kuah soto biar sadar.

Soal cinta, ada yg bilang cinta pertama setiap orang itu adalah ibu. Well, itu memang gak sepenuhnya salah. Cuma kalo menurut gue pribadi, ibu atau orang tua lebih pantas disebut cinta sejati. Tuhan juga cinta sejati. Betapa pun kita mengkhianati mereka, mereka akan selalu memaafkan. Lagipula dalam pepatah panda ...nggg, maksud gue negara asalnya panda alias Cina, orangtua adalah Tuhan kita di dunia. Itu ada benernya juga. Toh kalau orangtua marah, Tuhan juga marah kan sama kita? Ridho Tuhan ada di ridho kedua orangtua. Sementara Ridho Roma, itu ada di bapaknya.

My lovely parents <3

Ngomong-ngomong, pacar pertama itu gak selalu jadi cinta pertama. Sebelum gue ketemu cinta pertama gue ini, gue udah pacaran dua kali. Dua-duanya gue terima bukan karena gue suka, tapi karena dulu gue kira kalo ada yg nembak ya diterima -_______-

Yaaa, gue ini kan baru lulus SD, mana tau pacaran itu gimana. Dulu lo juga mikir gitu gak sih kalo ada yg nembak musti diterima? Please jangan ngomong cuma gue yg mikir gitu :/


Gue bersyukur waktu itu ditempat tinggal gue gak ada titisan Syekh Puji. Mungkin kalo gue berpikiran kayak tadi terus ditawarin nikah, gue udah punya anak tiga sekarang.

Soal cinta pertama gue, gue kenal dia di ekstrakurrikuler Pramuka kelas VIII SMP. Kenalan, SMSan, deket, bla bla bla kita skip aja ya? Kelamaan, lagian pait gue ceritanya <///////3 pokoknya untuk pertama kalinya gue nyaman sama cowok. Hari-hari jadi indah, utang di kantin serasa lunas. Ibarat kata orang, tai kucing pun rasa coklat. Sebenernya gue gak gitu setuju sama pepatah yg satu ini. Orang jatuh cinta boleh aja mendung dibilang cerah, tapi tai kucing jadi coklat? Men, bukannya kata iklan itu soal rasa lidah gak bisa boong ya? :/

Anyway, pertemuan gak ada yg abadi. Begitulah yg terjadi antara gue sama dia. Delapan bulan kemudian, kita jauh karena mungkin sifat gue yg childish. Tapi gue yakin, perpisahan juga gak ada yg abadi kok. Walaupun gue harus nunggu lama.


Kita pun mulai menjalani kehidupan masing-masing. Meskipun kita masuk di SMA yg sama, kita gak saling bicara. Entah apa yg dia rasakan waktu itu. Lalu dia punya cewek, gue juga punya cowok.

Tahun berganti tahun, dia melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri yg jadi impian gue, tapi sepertinya kali ini kita memang dipisahkan. Jadi gue di Semarang lalu disinilah gue sakit.

Dari sekian yg jengukin gue, gue berharap suatu hari dia datang.

Gue selalu bertanya-tanya, taukah dia kalo gue sedang sakit? Taukah dia kalau dia gue nantikan begitu lama? Enam tahun berlalu tapi kenangan bareng dia begitu setia melekat dalam ingatan gue. Tapi gue berfikir, masihkah dia peduli sama gue setelah apa yg kita lewati selama ini? Tanpa bicara. Tanpa kata-kata. Dan mungkin saja perasaan itu sudah lama hilang.

Dalam doa, gue gak pernah meminta dia untuk datang. Tapi dalam hati, gue selalu berharap. Bahwa masih ada kemungkinan, dia masih peduli ‘sedikit’ tentang gue. Gue gak berharap banyak kalau suatu hari nanti dia kembali. Gue hanya ingin ketemu dia. Gak lebih.

Lalu suatu hari, Tuhan mendengar harapan gue. Dia menghubungi gue. Semua rasa kangen yg gue acuhkan selama enam tahun ini meluap. Gue nangis malam itu. Gue pikir gue akan baik-baik saja. Gue pikir, perasaan gue akan jauh lebih baik setelah dia bilang dia akan datang menemui gue. Nyatanya, luka lama kembali menguak. Selama ini gue mencoba gak peduli dengan perasaan rindu terhadapnya. Gue bertahan dengan ego gue. Tapi hanya dengan kata “hai” dari dia, pertahanan itu runtuh. Siapkah gue melihatnya nanti?


Meskipun nanti hanya satu hari kita bertemu, gue ingin tampil maksimal di depan dia. Gue ingin mengesankan dia. Gue ingin mendengar kata-kata, “kamu cantik sekarang” dari bibir dia. Gue ingin terlihat sehat dan ceria seperti dulu di hadapan dia. Gue gak mau terlihat sakit lalu besok-besoknya dia memberi gue perhatian sebatas rasa kasihan. Itu justru membuat gue terlihat menyedihkan.

Gue ingin kesan yg dia tangkap adalah, “hai, aku kangen kamu dan aku ingin ketemu kamu setelah sekian lama. Aku ingin kamu tau walau pun aku sakit aku disini baik-baik aja. Makasih udah nyempetin ngeliat keadaanku. Aku seneng liat kamu lagi”.

By the way, buat lo yg pernah nonton film “Crazy Little Thing Called Love”, lo pasti tau kan jalan ceritanya? :’) Seorang cewek yg berusaha tampil lebih baik dan berubah jadi cantik, untuk mengesankan cowok yg dia suka? Inilah yg terjadi sama gue saat ini. Gue bela-belain beli wig baru biar gue kelihatan cantik. Gue bela-belain ritual buang sial dengan ngebuang kolor gue yg lebih pantes dijadiin lap. Siapa tau pas lagi jaim tau-tau wig gue melorot didepan dia, lalu mata dia jadi panuan stadium delapan saking ‘terpesona’nya sama kepala gue yg mirip pentol korek. Kalo hal itu sampai terjadi, tolong siapa aja gantung gue di pohon ciplukan T_T.

Sempet kepikiran juga buat ke salon segala macam, cukur bulu kaki mungkin... Errr, ga deh. Ntar kalo over, baru sampai keset dia ongkang-ongkang pulang :/
Bedanya, kalo di film si cewek akhirnya mendapatkan si cowok, kalo gue, gue yakin dia gak akan balik suka lagi sama gue :’D lagipula, yg terjadi disini kayak potongan lagunya Dido yg judulnya White Flag.

I know you think that i shouldn’t still love you
Or tell you that ...
But if i didn’t say it, well i still have felt it
Where the sense in that?
I promise i’m not trying to make your life harder
Or return to where we were
...

Intinya, keadaan udah gak sama lagi sekarang. Perasaan sudah berubah. Jadi biarin aja yg dulu pernah terjadi. Gue cuma ingin ketemu dia. Mungkin untuk yg terakhir. Itu saja. Lalu kesananya gue lebih bisa tenang menghadapi hari-hari gue. Karena harapan gue sudah terwujud :’)

Thursday, January 17, 2013

Gue Kangen 'Anu'

Diposkan oleh Ferina Aquila di 7:44 AM
Reaksi: 
2 komentar
Postingan “Gue Kangen ‘Anu’” kali ini bukan tentang sesuatu yg mesum dan berbau dewasa. Jadi, buat lo yg sempet ngarep gue bakal bahas hal-hal yg aneh disini silakan istighfar dulu. Astaghfirullaaah… o:) hehehe

Gue tulis ini biar lo lebih bersyukur sama Yang Maha Kuasa.

Jadi gini, setiap kali gue lagi jalan-jalan, kadang ada beberapa temen gue yg komen, “ih! Enak banget sih jadi kamu, Fer lagi sakit jalan-jalan mulu”. Atau komentar adek gue pas awal-awal gue sakit, “enak yaaa. Lagi sakit dibeliin BB”. Gue cuma bisa senyum kecut pas denger itu semua.

Loh, memang lo mau jadi gue yg sakit beginian? Lo menangkap gue sakit kerjaannya jalan-jalan dan seneng-seneng aja kan karena lo gak tau gimana perjuangan gue selama kemo. Hampir sepuluh bulan selama sakit dan pengobatan gue gak kemana-mana. Bolak-balik RS dan rumah. Jadi kalo gue sedikit bersenang-senang di saat kondisi gue membaik, bolehkan gue sebut itu ‘hadiah’? :))

Anyway, materi memang bukan satu-satunya cara mendapat kebahagiaan tapi itu bisa menolong. Buat lo yg gak bisa jalan-jalan, seenggaknya lo sehat. Buat yg sakit, bersyukur lo bisa berobat. Buat yg sakit tapi gak punya duit, bersyukur ada yg perhatian, dan sayang sama lo.Kalo gak ada yg sayang, lo bersyukur punya rambut, mata, tangan, kaki. Kalo gak punya juga … HELL! Lo ini manusia apa setan sih??!

Dibagian ini ada banyak hal yg gue kangenin yg ingin gue share sama lo semua. Mostly, yg udah gak bisa gue lakukan lagi untuk sekarang ini kayak buka duren pake gigi. Gak tau untuk kedepannya jadi bersyukurlah buat lo-lo yg masih sehat dan gak perlu merasakan apa yg sedang gue rasakan saat ini :)

1.  Rambut
I miss my long hair! Udah pernah denger kan kemo itu bikin rambut rontok? Jangan bayangin rontoknya kayak iklan shampoo yg cuma 3-5 helai. Ini belasan sekaligus! Dan SEMUA rambut loh ya :’) gak hanya rambut kepala. Rambut ketek, bulu mata, alis, bulu kaki, bulu tangan, bulu dada kalo Ridho Rhoma kena kanker.

YA, memang nanti bakal tumbuh lagi tapi gue bete banget selama masa kemo 5 bulan gue melewatinya dengan kepala gundul. Gue terlihat seperti biksu Tong Sam Chong dan disisi lain permen kojek buat anak-anak.

Gue waktu di ruang steril. Plontos

Gue juga bete alis dan bulu mata gue gak ada karena itu bikin gue kelihatan tua dan mata gue terlihat cekung.


 No eye brow

Soal bulu kaki bulu tangan jujur gue seneng karena voilà …hasilnya super duper mulus ketimbang waxing. Gue jadi sering ngeliatin kaki dan tangan gue sejak itu <3 hahaha!

Yg gue bangga dari diri gue sendiri adalah gue gak nangis saat mahkota kepala gue gugur massal :’) kebanyakan cewek kalo kena kanker kan mewek karena rambutnya habis, apalagi yg rambut panjang. Gue sih pasrah aja. Mau nangis toh gak akan bikin rambut lo nancep lagi. Lagian gue bisa akalin pake macem-macem wig. Tetep eksis dong yaaa B-)

Untuk alis juga gue akalin pake pensil alis. Kadang kalo gue lagi iseng gue gambar yg kanan item yg kiri coklat. Pelajaran menggambar dan mewarnaiiii!! Hahaha. Gue emang beruntung lahir di jaman sekarang yg penampilan bisa ditutupi bagi mereka yg kekurangan secara fisik :). Termasuk photoshop kah? Yeayy! Itu sih elooo yg hobi ngedit. Gue ngedit blog aja belom becus :P

Tapi lama-lama pake wig pun gue udah sedikit males. Panas. Mau keluar plontosan ntar dikira upin ipin. Lalu tiba-tiba gue punya ide hebat. GUE AKAN TATTOO KEPALA GUE! Hell, yeah, this is absolutely serious. Tapi tattoo temporer. Pasti keren banget! Gue pengen gambarnya tattoo kalajengking dari depan trus badan sama ekornya memanjang ke belakang. Gue excited banget sama ide ini dan mohon sama bapak buat nemenin gue bikin tattoo.

Kalo ditattoo, gue berani keluar rumah tanpa wig. Bapak sih oke-oke aja karena beliau sama gokilnya kayak gue tapi ibu yg ngedenger hal ini sangat kontra dan ngancem beliau akan nyiapin kapling 2x1 buat ngubur gue hidup-hidup kalo gue sampe nato kepala gue. Jadi dengan AMAT SANGAT TERPAKSA gue pendem ide brilian itu. Kapan lagi coba gue jadi yg paling keren diruang sitostatika? :(

Sekarang sih rambut gue udah cepak paskibra B-) dan bulu mata serta alis gue tumbuh lebih lebat dari yg dulu. Alhamdulillah…

2.  Jari-jari Kaki Kanan
Jari-jari kaki itu penting karena berfungsi mencengkram lantai sehingga lo bisa berjalan tanpa takut terpeleset. Sayangnya, jari-jari kaki kanan gue ini sedikit mati dan gerakannya lemah sehingga jalan gue rada timpang sedikit. Ini gara-gara kankernya menghimpit saraf kaki kanan gue sehingga rada mengganggu gitu.


Gue jadi harus ekstra hati-hati kalo ngelewatin lantai licin karena gue sangat beresiko untuk jatuh. Makanya gue gak pernah nongkrong/nge-mall sendirian sekarang karena ada moment-moment dimana nantinya gue harus pegangan sama orang. Contohnya keluar dari eskalator.

Gue juga jadi gak bisa sembarangan pergi sama cowok karena gue gak mau dia ke-GR-an gue pegang-pegang dia -___- salah paham kan berabe. Boro-boro pergi sama cowok, kadang sama temen cewek aja susah. Kalo diajak pergi alesannya banyak banget. Gue bete setengah mati kalo alasannya “gak ada motor”. Kalo seandainya kaki gue gak sakit, gue gak keberatan kok jemput temen gue buat jalan. Masalahnya, gue gak bisa naik motor dengan kaki begini.

Selain itu, gue gak bisa lagi pake sandal jepit. Padahal pewe banget ya sandal jepit itu? Karena jari kaki gue gak bisa njepit si sandal, ya apa boleh buat. Gue cuma bisa pake sandal model selop dan sepatu.

Gue selalu berharap suatu hari kaki gue bisa selincah dulu. Biar gue bisa main pump it up di Timezone, biar gue bisa mengayuh sepeda, berlari, berenang :’). Dulu impian terliar gue adalah panjat tebing. Gue bersyukur sebelum sakit, gue sempet ikutan panjat tebing di kampus. Impian gue tercapai :)) kalo sekarang sih bakal susah banget mungkin.

Pump It Up. Game dance favorit gue dan anak-anak

Gue kangen pecicilan. Tapi Tuhan cukup adil karena sempat membuat gue melakukan banyak hal dengan kaki gue :)

3.  Perut dan Jamban
Gue udah pernah bilang kan gue punya kantong kolostomi di perut? Itu bikin gue agak gak bebas kalo mandi. Gue cinta mandi dan selalu berlama-lama di kamar mandi. Kadang gue nyelesein lagu “Anak Ayam Turun Sejuta” yg mati satu tinggal 999.999 sampai habis.

Karena ada kolostomi itu jadi gue di kamar mandi seperlunya aja. Takut jatoh juga kelamaan. Dan… Gue kangen nongkrong di jamban buat pup.

Kalo gue sembuh, usus gue bakal dimasukin lagi dan gue bisa kayak dulu. Tapi selama kanker itu stay disana, beginilah gue.

4.  Menstruasi
Gue kangen bolak balik ganti pembalut meskipun itu capek. Gue kangen tembus meskipun itu malu-maluin dan ngebetein, dan biasanya temen-temen cowok suka rese kalo cewek ada yg tembus. Hahaha, I really enjoy that moment and I’m gonna miss it badly :’) gue juga kangen pake kuteks warna warni yg biasanya cewek lakuin kalo lagi dapet. Gue gak sabar untuk cepet sembuh.

5.  Berat Badan
Do you know I lost 15kg when I’m dying? Tadinya 47kg terus jadi 32kg. Kalo sekarang sih 38kg. Gila, naikin berat badan itu susahnya minta ampun ya kalo lagi sakit. Perasaan dulu gue gemukin badan itu gampang banget.

Gue pengen berat gue 50kg lagi kayak waktu kelas XI SMA. Seger, nyenengin kalo diliat :3. Mungkin kalo gue ini ayam gue beruntung gak akan di potong. Nggg, salah. Yg bener gue akan di bakar karena dikira ayam flu burung :/

Gue waktu 50kg. Seger :3

Gue pernah pas lagi nongkrong bareng temen di tempat makan, tiba-tiba ibu-ibu di samping gue komentar, “mbak, tau susu kambing gak? Kalo sampeyan doyan minum itu”. Gue mengernyitkan dahi gak ngerti. Lalu temen gue nanya, “emang buat apa?”. “Biar mbaknya gak kurus. Dulu saya pernah sekurus ini terus minum susu kambing selama 2 minggu berat badannya naik”.

Brekele! Gue langsung pengen pergi dari situ. Itu ibu-ibu mulutnya pedes banget gak bisa dijaga. She doesn’t know anything about me and in five minutes she judges me! Boleh aja kasih saran tapi cara barusan itu nyinggung perasaan banget.

Well, itu tadi beberapa hal yg bikin gue kangen. Se-nggak beruntungnya lo, lo harus inget “rumput tetangga emang selalu keliatan lebih hijau” tapi gak semua terlihat seperti kelihatannya. Jadi, lo harus bersyukur. Gue pun begitu, walau gue sakit dan gak bisa kayak lo, seenggaknya gue masih bisa menikmati hidup :)
 

Life Afterlife Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos