Tuesday, January 29, 2013

Elegi Aquila

Diposkan oleh Ferina Aquila di 4:59 AM
Reaksi: 
Dipostingan kali ini gue mau mempublikasikan cerpen karya mendes gue tercinta: Anindyah Nuke Indraswari yg ditujukan buat gue. KOREKSI: buat dosen bahasa Indonesia dia.

Uke :3

Jadi dia ditugasin buat bikin cerpen dikampusnya dan dia mengangkat kisah tentang gue. Gue terharu, termehek-mehek, tersedak dan terperosok tak bisa bangkit lagi ngedengernya :3 so sweaaat … Cerpen yg berjudul “Elegi Aquila” ini dinilai sama dosennya sebagai cerpen terbaik seangkatan jurusan dia loh! Hahaha. Bukan apa-apa, karena pake nama gue aja jadinya terbaik :P. I’m proud enough for what she done. Gue aja bacanya speechless. Iya, gue nggak sanggup berkata-kata karena mulut gue dilakban sama dia biar gak ketawa duluan. Tapi kenyataannya gue malah nangis bacanya :’). Buat Uke yg selalu minta namanya dimasukkin ke dalam blog gue (hehe, semoga gue gak dijumroh kalo dia baca kalimat yg ini >.<), this part is specially for you. Selamat membaca!

Elegi Aquila
By: Anindyah Nuke Indraswari

Sudah seharusnya nama menjadi cerminan diri, sekalipun nama itu ganjil terdengar, tapi itu penting. Sebuah nama bukan sekedar hiasan diri. Dibutuhkan arti untuk memperindahnya.

1998. Awal aku bertemu dengan dia. Ya … “Dia”. Aquila namanya. Berkulit putih, berhidung mancung, mata besar yg bersinar dan rambut selegam arang. Aquila yg cantik. Aquila sahabat pertama yg aku dapatkan di masa taman kanak-kanakku. Selalu aku perhatikan gerak langkah cerdik Aquila.

Aquila berarti elang. Tetapi berarti juga sebuah bintang paling bersinar di langit sana. Seperti namanya, Aquila selalu melakukan pergolakan yg berarti. Kecantikannya membuat ia memenangkan lomba kartini masa TK, otak briliannya mengantarkannya mendapat sekolah-sekolah lanjutan favorit di kota ini. Aku dan Aquila, bagai bumi dan bintang di langit. Perbedaan sangat jauh, tapi entah mengapa aku selalu ditakdirkan mendampinginya.

You’re smart, but you’re lazy. Dan kamu sangat cantik tetapi sungguh tak mau tahu akan dirimu”. Ia selalu mengatakan kalimat itu padaku. Entah mengapa perbedaan kami tak pernah menjadi halangan untuk menjadi seorang sahabat.

Aquila dengan segala tekanan ego ayahnya agar selalu menjadi juara sekolah, terkadang ia berfikir ingin menjadi diriku yg serba biasa ini. Ia sering mengeluh akan sikap ayahnya yg selalu ingin Aquila menjadi yg pertama atas segalanya.

“Syukuri saja semua yg kamu punya. Jika aku jadi kamu, pastilah aku bangga dengan diriku yg seperti itu!”. Dengan berat Aquila menjawab, “Kamu hanya membayangkan bagaimana menjadi aku, bukan yg merasakannya. Semua yg aku punya bukan segalanya. Hidup ini hanya sekali, sekalipun tak ingin aku sia-siakan. Aku hanya ingin menjadi gadis remaja tanpa tuntutan menjadi selalu nomor satu”.

Aquila memang gampang emosi. Apalah arti kata-kata yg keluar dari mulutku jika ia sedang marah dan bermuram durja? Sebagai sahabat aku hanya ingin selalu mengerti dirinya.

Masa SMP telah usai. Dengan segala kemampuanku akhirnya aku memutuskan untuk berbeda SMA dengan Aquila. Tentu ia protes, “Siapa lagi nantinya yg bisa jail ke aku kalau kamu tidak bersamaku?”, begitu protesnya. Aku memang selalu mengganggunya saat kami masih satu sekolah. Itu aku lakukan semata-mata hanya karena ingin ia melupakan kesibukannya sebagai “anak pintar”.

Aquila melebarkan sayap. Di SMA-nya ia semakin berprestasi dan semakin banyak mempunyai teman yg satu pemikiran dengannya. Aku tersingkir. Aku sudah menduga ini akan terjadi. Lambat laun komunikasiku dengannya semakin jarang. Aku sungguh sangat memaklumi tanpa rasa cemburu.

Akhir 2011, mendadak saja aku sangat merindunya. Kudengar ia mendapat perguruan tinggi kenamaan di kota sana, dan aku hanya menetap di daerah asal walaupun tetap berkuliah.
Suatu malam di bulan Desember 2011 aku mendapat pesan dari Aquila. “I miss you badly. Bisa ketemu dirumahku besok? Pukul 4 sore. Banyak yg ingin aku ceritakan dan aku perlihatkan”. Aku membalas pesan itu dengan balasan yg berisi kesediaanku.

Keesokan harinya, aku menemui Aquila dengan harapan aku akan kembali melihat wajah ayunya setelah sekian lama. Seketika bayanganku akan Aquila hilang begitu saja. Yang aku lihat hanya seorang gadis bermuka cekung, pucat seperti mayat hidup. Aquila duduk di kursi roda. Perlahan air mataku mulai mengalir. “Apa yg terjadi padamu?”. “Aku sakit. Dokter memvonis aku mengidap kanker stadium akhir. Aku sangat takut. Aku butuh kamu. Selama ini aku selalu butuh kamu. Aku mohon jangan hilang lagi dari aku”. Mendengar ucapannya tanpa berlama-lama aku langsung memeluknya. Kejatuhan Aquila membuat ia ditinggalkan teman-temannya satu persatu. Aku merasa menjadi sahabat yg sangat tidak berguna.

Hari demi hari berlalu, Aquila seperti kehilangan dirinya yg bersinar dulu. Aquila tak lagi menjadi idola. Ia hanya terbaring lemah di rumah dan sesekali melakukan kemoterapi di rumah sakit. Aku tak pernah lalai memberi semangat untuk dirinya. Aku sangat sakit dan sangat menderita dengan melihat kondisinya. Aquila yg cantik sekarang terlihat seperti mayat hidup. Wajahnya pucat, rambut hitam legamnya telah habis dan digantikan oleh wignya.

Sesekali Aquila ingin bersama denganku pergi berjalan-jalan. Tatapan miris orang-orang selalu menjadi beban untuknya. “Apa kamu tidak malu berteman dengan diriku ini?”, tanya Aquila. Dengan mantap aku menjawab, “ Sekalipun aku tak pernah malu. Kamu itu tetap kamu yg dulu. Persetan dengan kankermu itu!”. Ia bilang semua yg aku katakan adalah semangat bagi dirinya.

Pada pertemuan kami berikutnya, ia bertanya, “Apakah aku berhak untuk mendapatkan cinta seorang lelaki dengan kondisiku yg begini adanya?”. “Tentu. Lelaki yg baik untukmu tak akan memandang fisik melainkan hati”. Lagi-lagi ia menangis. Ia merasa sudah menyerah dengan segala pengobatan yg ia lalui. Aku turut merasakan kesedihan dan keputusasaan Aquila. Seandainya aku bisa melakukan sesuatu untuk membuang penyakitnya jauh-jauh. Sayang, dunia ini bukan dunia dongeng yg segalanya bisa dilakukan dengan mudah.

Semakin sering aku berfikir tentang Aquila. Kabarnya sekarang tubuhnya sudah menolak untuk diberi kemoterapi. Tak kusangka penyakit itu bisa dengan cepat mengalahkan tubuhnya.

Tak pernah aku lupa panjatkan doa agar nantinya ada keajaiban untuk Aquila-ku, sahabat kecilku …

Untuk Ferina Aquila
yang sedang berjuang

4 komentar:

Anonymous said...

uke.. i miss u soo, pernah gag sih jengkel sama mper? kalo aku sering.. Pengen banget baca sms rina yg terakhir buat anak2 satu kelas pas mau UAN SMP.. RRRRRRrrrrr~ itu mendadak hilang karena udah baca postingan ini. salam sayang buat mper + uke.

ridwan Barca on January 30, 2013 at 9:55 AM said...

Nice..:)
sahabat sejati takkan meninggalkan sahabat'y walau dalam ke'ada'n apapun,.
Spt d'kisah2 film..
But,.it's Real..:D

Ferina Aquila on January 30, 2013 at 8:29 PM said...

anonim: i know who you are :DD untung mau ngaku d bbm hehehe. Deeply sorry kalo dulu ngeselin ... sayang km juga *hugs*

ridwan: :)) hehe iya

nuke mustofa on September 6, 2013 at 4:22 AM said...

aku yg bikin, tapi aku yg sllu merinding bacanya :'D , absolutelly will miss you mper. syg kamu endul :* maaf blm bsa mnjdi shbt yg baik selama 15thn kita kenal.

Post a Comment

 

Life Afterlife Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos